top of page
Search

Berani untuk #YukMulaiLagi

  • Writer: Lala
    Lala
  • Jul 17, 2021
  • 3 min read

Updated: Jul 24, 2021

Nggak perlu diperdebatkan lagi, gue rasa semua orang juga tahu bahwa pandemi menjadi masa-masa terberat bagi banyak orang, dari naik turunnya ekonomi sampai mental. Perjalanan gue dan Dea dalam membuat podcast Udah Gapapa, ternyata nggak bisa menghindar juga dari dampak itu.

Kenapa lo sampai menelantarkan Udah Gapapa?

Tahun lalu, selepas kami melancarkan kampanye kolaborasi dengan Telinga Labs yang bertajuk Jadi Dewasa Kok Gini Amat (#JDKGA) yang terbilang cukup sukses menjangkau banyak orang, kami meninggalkan Udah Gapapa begitu saja tanpa pamit, tanpa permisi.

Bahkan yang seharusnya menjadi gong episode tersebut, karena kami sudah mendatangkan tamu spesial dan sudah proses rekaman, tidak sempat kami luncurkan. Kalau ditanya apa yang terjadi, gue juga nggak tahu. Saat itu gue kelelahan, entah apa yang ada di pikiran gue ya, gue mengiyakan bekerja di dua perusahaan yang sangat demanding.

Di tambah lagi, mengurus Udah Gapapa saat itu nggak lagi menyenangkan. Banyak sekali kepala yang tidak sejalan dengan kepala gue. Banyak sekali faktor yang semakin memperburuk pikiran gue, yang sudah merasa inadequate dalam berkarya. Episode kami panjang, bahasan kami berat, seringkali merasa sedih, dan kadang harus menemukan wisdom di suatu masalah yang bahkan belum selesai kami hadapi.

Gue mempertanyakan diri sendiri, apa gue pantas ada di platform ini? Gue siapa memangnya, merasa punya kredensial dan kapabilitas untuk mendengar dan menjawab curhatan orang yang rumit sekali, kadang rasanya hopeless, mau bantu tapi hanya bisa merasa sedih.

Gue sudah gagal. Hahaha, sarjana dan konsultan komunikasi, gagal memasarkan brandnya sendiri.

Gue jadi benci Udah Gapapa.

Gue ganti kerja jadi pakai laptop pemberian kantor, supaya nggak perlu lagi lihat file-file Udah Gapapa. Gue log out IG dan email Udah Gapapa dari seluruh device gue. Gue unfollow Udah Gapapa di Spotify, bahkan berhenti mendengarkan podcast sama sekali.

Yap, seperti biasa gue hanya ingin melarikan diri. Mengulang yang baru saja. Melupakan kesalahan dan kegagalan gue.


Lalu? Sudah, menyerah saja begitu?

Ya, nggak lah. Gue dan Dea berteman 14 tahun lamanya. Ada atau tidak ada Udah Gapapa, kami masih saling bicara satu sama lain. Berbulan-bulan kami berhenti dari Udah Gapapa, ternyata di perjalanannya banyak yang membuat kami rindu.

Banyak sekali topik-topik dan isu yang gue gatel banget untuk berkomentar. Banyak sekali curhatan yang masuk dari Sobat Relate - pendengar kami. Banyak juga yang menanyakan kemana perginya Udah Gapapa, walau hanya dari orang-orang terdekat.

Dari gue pribadi, gue rindu punya platform dimana gue bisa menyuarakan keresahan dan kepedulian gue, agar selalu pada tempatnya. Itu saja, dan cukup membuat gue menyadari bahwa segalanya bisa diperbaiki.


#YukMulaiLagi? Emangnya pada mau "lagi"?

Hmm, nggak bisa jawab karena itu di luar kuasa gue. Nah, dalam perjalanan memulai kembali Udah Gapapa, gue dan Dea mulai melepaskan hal-hal yang di luar kontrol dan kuasa kita, seperti audiens. Gue tahu sih, rasanya diajak mulai lagi itu nggak gampang, pasti trust issue lah!

Kalau orang lain minta dikasih kesempatan kedua dari gue, gue sih nggak peduli ya. Kalau emang dia sungguh-sungguh mau usaha lagi, ya dilakuin aja dulu. Apapun pendapat gue mau kasih dia kesempatan lagi atau nggak, ya nggak matter, lah! -Dea

Tapi ya, sudah. Akhirnya gue dan Dea teleponan suatu hari dan kami sama-sama kasih PR ke satu sama lain: menyebutkan apa kurangnya diri sendiri, apa kurangnya si partner, dan apa kurangnya Udah Gapapa.

Percakapan kami berhasil menjawab semua kegelisahan gue saat meninggalkan Udah Gapapa dulu. Syukur puji tuhan, memang namanya teman baik ya begitu, ya. Akhirnya, gue pun mengubah fokus dan tujuan gue untuk nggak lagi menyerahkan hasilnya pada validasi orang lain, melainkan ke melakukan apa yang gue sukai dan gue pikir akan bermanfaat buat orang lain. Dengan begitu, pun nanti gagal dan kami tidak lagi ada yang mendengarkan, setidaknya di dunia ini legacy gue terjaga dengan baik, suara gue sudah pernah nyaring.


Cie, jadi merasa sudah punya kredibilitas nih sekarang?

Nggak juga. Ya udah coba yuk kenalan dulu sama gue dan kenapa gue ada di Udah Gapapa.

Halo, gue Lala. Gue adalah praktisi dan penyuka segala hal tentang komunikasi dan hubungan antar manusia. Gue di Udah Gapapa punya satu tujuan: merangkul semua perspektif dan spektrum rasa.

Satu hal yang gue percaya adalah bahwa kita sebagai manusia akan selalu berbeda dan tidak akan pernah setuju sepenuhnya akan suatu hal. Dari lahir, tumbuh besar, sampai hidup di menit ini, kita sudah mengalami hal yang berbeda-beda. Semua rasa dan kisah kita adalah berdasarkan pengalaman yang beragam itu. Semuanya valid, dan patut didengar.

Gue ingin Udah Gapapa menjadi platform berbagi wisdom dan perspektif. Bukan gue saja, tapi juga lo, tante lo, teman lo, ibu-ibu arisan, semua orang. Supaya akhirnya, kita bisa saling mengasihi dan memahami dalam empati.


Aduh, mantep. Ya udah, #YukMulaiLagi!

Yuk! Makasih, ya. Sila dengarkan cerita comeback ini di platform podcast kesayangan kamu: Udah Gapapa #YukMulaiLagi di Spotify.


Comments


Get Our Updates and Listen to Our Podcast!

© 2023 by Sofia Franco. Proudly created with Wix.com.

bottom of page